Sabtu, 17 September 2016

I RAWANG KACA KAMUMMU'



Dongeng dan Cerita Rakyat Mandar Sulawesi Barat
Assalamu alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.....
Hay guys J, ini kisah dongeng  yang pertama aku publish, sebenarnya kisah ini aku dapat dari tanteku dan tanteku dapat kisah ini dari nenek ku trus nenek ku dapat dari ibunya terus, terus dan terus hehehe. Iya dulu pas SD bahkan sampai aku menginjak bangku MTs (bukan SMP):D, kalau lagi liburan ya liburannya ke Kampung Baru (Majene) di rumah Tante dan biasanya kalau ada waktu senggang pasti didongengin sama tante gak peduli mau pagi ke’ malam sebelum tidur atau bahkan maghrib dan yang lebih ajib lagi setelah di ceritain dongeng biasanya tante ataupun mama ngasih semacam nasehat yang berguna bagi saya yap betul sekali meskipun dongeng tapi didalamnya terdapat banyak pelajaran yang bisa kita ambil dan kita contoh ataupun beberapa hal yang harus dijauhi dalam kehidupan sehari-hari, hus hus sanaa, hahahaha syahrini kalee’ yah, assyyiik Bijak sekali lagi kata-kataku :D. Hehehe sebenarnya masih banyak kisah yang pernah tante ataupun mama yang diceritain ke aku tapi yah lain kali aja yah di postingnya. Ya udah daripada kelamaan mending langsung  baca ajah, Selamat Membaca. ^_^ 

I Rawang Kaca Kamummu’
            Alkisah pada zaman dahulu kala, ada sepasang suami isteri yang sudah bertahun-tahun menikah tetapi masih belum dikaruniai seorang anak. Namun walaupun demikian mereka tak pernah berputus asa dan tiada henti-hentinya memohon dan meminta kepada Tuhan entah itu dipagi hari entah disiang hari bahkan tengah malam sekalipun mereka tetap berharap ada sebuah keajaiban menghapirinya , segala cara dan upaya hampir semuanya telah dilakukan, bahkan jika ada orang lain yang menyarankan sautu cara, mereka akan langsung melakukannya. Dan suatu hari di depan teras rumah panggung mereka terjadilah sebuah percakapa.
,” Segala cara telah kita lakukan, mengapa Tuhan belum mengabulkan do’a kita? Aku sudah hampir putus asa.” Ujar sang suami, kemudian sang istri dengan penuh kelembutan dan kesabaran mencoba menenangkan suaminya,”Tenanglah kanda, mungkin belum saatnya tetapi yakinlah Tuhan pasti mengabulkan do’a kita.” Sambil mengelus lembut pundak sang suami yang kemudian dilanjutkan dengan membahas cerita yang lain.
          Pada suatu hari, tidak sengaja sang isteri mual-mual tanpa ada kejelasan apa penyebabnya. Semula ia duga itu hanyalah gejala masuk angin saja, namun kejadian ini berlangsung seminggu lamanya, tidak hanya itu sang isteri mulai bertindak aneh, ia selalu meminta makanan, buah ataupun minuman yang cukup sulit untuk mendapatkannya bahkan ia akan marah ketika keinginannya tersebut tidak dituruti oleh suaminya. Kemudian sang suami bertanya kepada tetangganya mengenai keadaan yang dialami isterinya, setelah dijelaskan sang suami terkejut setengah mati ia benar-benar tidak menyangka bahwa isterinya tengah mengandung janin buah cinta mereka, ia sangat gembira mendengar jawaban tetangganya tersebut dan dengan serta merta ia beritahukan kepada isterinya, bukan kepalang kebahagiaan mereka tak lupa mereka bersyukur atas segala kasih sayang Tuhan yang telah diberikan, betapa tidak cita-citanya kini telah terkabulkan, cita-cita yang sekian tahun ditunggu-tunggu, segala usaha dan do’a yang dipanjatkan tidaklah sia-sia, kini Tuhan telah mengabulkan permintaan mereka,
”Terima Kasih Tuhan”, ucap mereka hampir bersamaan sambil menengadahkan tangan tanda syukur.
         Hari-hari berlalu seperti angin sepoi yang menyapa lembut di wajah yang kemudian berganti bulan  dan akhirnya pada bulan ke sembilan terdengarlah suara tangisan bayi yang pertama kali di dalam rumah itu, suara itu adalah suara seorang bayi mungil perempuan yang berwajah ayu dan cantik sekali, lebih dari itu di luar rumah bunga-bunga merekah indah, langit menyiratkan warna biru yang kalem, bahkan burung – burung berkicau ria seakan turut menyambut kehadiran sang malaikat kecil pembawa kehangatan dalam keluarga. Sang ayah menggendong dengan hati-hati bayi mungil tersebut kemudian melihatnya dengan seksama lalu menciumi dahinya penuh kasih sayang,
”Cantik sekali kamu nak, sekarang ayah menamaimu I Rawang Kaca Kamummu.” Sekali lagi mereka berdua tak henti-hentinya mengucap rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Yah sekarang bayi merah itu telah memiliki nama yakni I Rawang Kaca Kamummu’.
       Setelah keberadaan bayi kecil I Rawang, itu berarti kebutuhan pun makin meningkat, dari yang semula masih dapat dipenuhi sekarang mereka juga harus berbagi dengan sang bayi. Kemudian pada suatu hari sang suami berencana untuk pergi sumombal (merantau) ke pulau jawa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak semata wayangnya I Rawang (dulu pulau jawa sangat terkenal untuk para perantau dari Mandar). Beberapa hari kemudian rencananya itu diberitahukan kepada isterinya, semula sang isteri tidak setuju, namun dengan alasan yang masuk akal akhirnya sang isteri harus rela melepas suaminya, padahal dirinya sedang menyusui bayi semata wayangnya tersebut. Lalu beberapa hari kemudian semua perlengkapan dan pakaian sudah dipersiapkan sematang-matangnya untuk menjalani perjalanan yang cukup panjang tersebut.
       Desir pasir di bibir pantai, daun nyiur yang bergerak melambai serta jejeran lopi sandeq (perahu sandeq) menjadi saksi bisu perpisahan keluarga kecil yang baru dikaruniai satu anak itu. Dan hari itu adalah hari dimana mereka akan benar-benar berpisah,
Kandi’ eloranga’ todzi’ nalumamba sumombal, diang a dzalle’u ma’itai pare-parewana i Cicci’ (Dinda, izinkan kanda untuk pergi merantau ke Pulau Jawa, mencari perlengkapan untuk anak kita I Rawang Kaca Kamummu’). Ujar sang suami, dengan mata berkaca-kaca sambil memegangi pundak sang isteri. Kemudian dibalas oleh sang isteri,
Kaka’ dao pasae lumamba da pattoro’ labuang, bale’ pimbali’o mai dzuga di seseu (Kanda janganlah terlalu lama dirantau orang hingga lupa tanah kelahiran sendiri, cepatlah kembali kepadaku disini  kita bersua)” Ujar sang isteri dengan linangan air mata sambil melihati wajah mungil I Rawang yang sedang dipeluknya. Sebenarnya berat rasanya ia pergi meninggalkan isteri dan bayi kecil buah hatinya, namun apa daya ia tetap harus pergi untuk memenuhi kebutuhan anaknya kelak. Beberapa menit kemudian kapal yang akan mengangkut ia untuk pergi telah datang berlabuh dan terdengar suara teriakan dari dalam kapal memanggil-manggil namanya.
Ia mengusap air matanya lalu memeluk dan mengecup kening isterinya dengan penuh kasih sayang tidak lupa ia mencium pipi merah si kecil i Rawang yang sedari tadi tetap tenang dan sesekali menggeliat, namun semakin ia memandangi anaknya air matanya makin meleleh. Dengan demikian sang suami melangkah selangkah demi selangkah meninggalkan isteri dan anak serta tanah mandar kelahirannya. Tak kuasa melepas sang suami, sang isteri menangis tersedu-sedu hingga menyebabkan si kecil i Rawang juga menangis cukup keras sebagai pengantar kepergian sang ayah.
        Pelan namun pasti kapal mulai meninggalkan bibir pantai menuju lautan ombak, kapal terlihat semakin kecil dan dari kejauhan sang suami masih sempat melambaikan tangan pada isterinya, begitupun sang isteri ia benar-benar menunggui kapal itu hingga benar-benar hilang di pelupuk mata. Setelah kapal melaju jauh si kecil i Rawang sudah kembali tenang seakan-akan dengan ikhlas ia merelakan ayahnya pergi sumombal.
       Hari demi hari berlalu kemudian berganti bulan lalu bulan berganti tahun, bertahun-tahun sudah lamanya sang ayah meninggalkan i Rawang Kaca Kamummu’.  Kini si bayi kecil i Rawang yang dulu masih merah saat ditinggal ayahnya  telah menjadi gadis remaja yang manis ia bagaikan bunga-bunga yang sedang merekah harum semerbak dan mewangi, wajahnya indah dengan dua bola mata bulat khas melayu, kulitnya putih langsat, rambut yang terurai panjang ikal dan tebal hingga ujung mata kaki, disertai dengan lesung pipi yang manis saat ia tersenyum sebagai pelengkap keayuannya. Perangainya lemah lembut, tutur kata yang baik, dan patuh terhadap ibunya menambah indahnya sosok i Rawang Kaca Kamummu’.
      I Rawang Kaca Kamummu’ adalah seorang gadis yang sangat rajin, ia rajin membersihkan rumah, memasak dan pandai manette’ (menenun), lalu suatu ketika seorang pemuda tampan asal Bugis tak sengaja lewat di depan rumahnya, saat itu i Rawang sedang menenun sarung di halaman teras rumahnya (dulu rumah panggung). Pemuda itu seketika terkesima melihat kecantikan dan kelihaiannya dalam manette’ , dalam hatinya berkata, ”Duhai siapakah gerangan gadis cantik itu, baru sekali ini aku melihatnya,” katanya sembil tersenyum. Namun, ia  segera berlalu dan berencana untuk kesana dan berbicara baik-baik kepada orangtuanya.
      Beberapa hari kemudian pemuda itu kembali datang menyambangi rumah i Rawang dan menjadi tamu di rumahnya, pelan namun pasti sang pemuda menaiki tangga rumah dengan hati berdegup kencang kemudian mengetuk pintu beberapa kali dan akhirnya dibuka oleh ibunda  i Rawang, sang ibu terkejut mengetahui ada seorang pemuda yang mendatangi rumahnya, setelah itu ibunda i Rawang mempersilahkannya masuk dan duduk berhadapan, saat itu i Rawang sedang memasak di dapur jadi ia hanya mendengar percakapan mereka dari balik dinding kayu. Setelah berbasa-basi sang pemuda mulai menyatakaan tujuannya yang sebenarnya,
Tabe’ begini, kedatangan saya kemari untuk meminang putri anda menjadi pendamping hidup saya,” katanya dengan sedikit gemetar. Ibunda I Rawang mengerutkan kening lalu melihat ke arah pintu sambil mengingat kepergian suaminya pada saat I Rawang masih kecil, keadaan hening seketika kemudian ibunda I Rawang kembali menghadap ke depan dan berkata,
”Maafkan ibu anakku, aku tak bisa memutuskan bahwa kau bisa menikahi putriku karena suamiku belum jua kembali, bagaimana kalau ia kembali lantas putriku sudah kau bawa pergi, aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya nanti lagipula putriku masih terlalu muda untuk kau nikahi.” Ujar sang ibu menjelaskan.
Setelah mendengar perkataan ibunya,  untuk mengurangi rasa penasarannya i Rawang yang sedari tadi untuk menedengar menengok sedikit kedalam melalui jendela kecil dapurnya, ia melihat pemuda itu dengan jelas. Di sisi lain betapa hancur hati pemuda itu ditolak mentah-mentah oleh ibu dari gadis yang dicintainya, dan dengan berat hati ia berpamitan lalu pulang dengan tangan hampa (kosong) ia benar-benar kecewa karena gagal memperistri i Rawang Kaca Kamummu’, walau begitu ia punya segala cara untuk membalaskan dendamnya.
     Suatu hari sang Ibu akan pergi ke pasar untuk membeli keperluan sehari-hari lalu ia menyuruh i Rawang untuk menenun sebuah sarung,
Oo Rawang tette’i dzolo’ dze’ lipa’e, apa’ nanaonga’ dolo’ di pasar (Hai Rawang tenunlah sarung ini, ibu mau ke pasar dulu)”, dengan patuhnya i Rawang mengiyakan dan segeralah ia melaksanakan tugasnya, ia kaitkan seutas benang demi benang kemudian ia rangkai dan sesekali ia berhenti untuk menghela keringat yang mulai bercucuran. Kemudian i Rawang berhenti sejenak karena hari memang sudah menjelang siang sedangkan ibunya belum juga pulang, sementar perut pun sudah mulai lapar, akhirnya ia bangkit lalu menuju ke dapur untuk memasak sembari menunggu kedatangan ibu dari pasar.
      Beberapa saat kemudian datanglah seekor burung kecil yang hinggap di tandayan-nya (alat untuk menenun) lalu burung itu melangkah ke kain tenun yang masih setengah jadi itu dan merobek-robek helai demi helainya. Ternyata burung itu adalah jelmaan dari pria bugis yang melamar i Rawang tempo hari, ia adalah seorang pemuda sakti yang memiliki banyak ilmu, ia sengaja melakukan penyamaran tersebut untuk membalas kekecewaannya terhadap ibunda i Rawang yang tidak menyetujuinya untuk memperisteri puterinya.
      Di dapur I Rawang sudah selesai memasak dan makan, setelah kenyang ia kemudian mencuci tangan dan langsung menuju teras untuk melanjutkan kembali tugasnya. Setelah sampai ia kaget bukan kepalang melihat seekor burung sedang merusak kain tenunannya kemudian ia langsung mengusir burung itu, saat itu ia benar-benar kacau,
”Aduh bagaimana ini, kain saqbe (sutera) ini sudah berantakan dan tidak bisa diperbaiki lagi, tidak, tidak, ibu pasti akan memarahiku dan menyangka bahwa aku yang telah merusak kain sa’be-nya”. I Rawang yang tengah kacau segera duduk dan berusaha memperbaiki kain tenunannya walaupun dengan tangan yang gemetar, ia benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi ibunya.
      Tak lama kemudian sang ibu datang tergopoh-gopoh membawa barang belanjaan yang dibeli dipasar,
      ”Oo Rawang, cepat ambil barang-barang ini,” belum sempat i Rawang menengok sang Ibu langsung terhentak dan seketika barang yang dibawanya terlepas dari tangannya lalu segera menghampiri i Rawang yang sedang berusaha sekuat tenaga memperbaiki kain tenunannya. Sang ibu marah besar,
”Apa yang telah kau lakukan Rawang? Kenapa tandayan mu berantakan?” ujar sang ibu dengan nada sinis,
”Maafkan aku ibu, tadi ada seekor burung yang merobek-robek kain tenunanku,” ujar i Rawang yang sedari tadi ketakutan,
sang ibu tidak percaya,”Ibu tidak percaya, itu hanya alasanmu kan? Kau telah berbuat dosa dengan pemuda itu di rumah ini iya kan?” ujar sang ibu yang memanas dengan suara tinggi,
 I Rawang sangat ketakutan dan mencoba membela diri,” Tidak ibu, aku tidak bersama siapa-siapa sedari tadi, aku sendiri, aku bersumpah demi Tuhan bahwa burung lah yang telah merusak tandayan ku, Ibu” ujar  i Rawang yang sudah menangis menjerit,
 “Bohong! Berani kau membohongi ibumu, kau telah mempermalukan ibu, kau telah melanggar siriq” kata sang ibu yang makin marah tak perduli suara isakan tangis i Rawang yang sangat ketakutan, selang beberapa detik  kemudian sang ibu segera saja  menarik baju i Rawang dan meyeretnya menuju halaman rumah lalu dilucutinya seluruh pakaian i Rawang dengan paksa sambil memarahi dan memukulinya kemudian meninggalkannya begitu saja, i Rawang menangis menjerit-jerit tetapi tak berdaya oleh perlakuan ibunya. Beruntunglah i Rawang memiliki rambut hitam legam yang ikal, tebal dan panjangnya sampai mata kaki yang kemudian ia pakai untuk menutupi seluruh tubuhnya.
       Hari sudah menjelang sore, tiba-tiba saja ada sebuah bendi (delman) yang sedang lewat di depan rumah dan tukang bendi itu adalah tetangga dari nenek i Rawang yang sedang dalam perjalanan pulang. I Rawang memanggil tukang bendi itu,
”Permisi pak, tolong beritahukan kepada nenek saya bahwa keadaan saya seperti ini, saya ingin ke rumahnya sekarang” ujar i Rawang dengan suara parau sambil menceritakan segala kejadian yang menimpanya. Akhirnya tukang delman itu mengerti dan segera berlalu kemudian memberitahukan keadaan i Rawang kepada neneknya.
      Setelah sampai di rumah nenek i Rawang, tukang delman tadi memberitahukan tentang keadaan cucunya, mendengar semua itu sang nenek marah besar kepada ibunda i Rawang. Segera ia membawa sebuah sarung kemudian langsung pergi mengendarai delman tadi menuju rumah i Rawang yang kini sedang dalam keadaan kacau.
      Sesampainya di tempat ia langsung terharu dan segera menghampiri i Rawang yang sudah pucat, tertunduk layu sambil terus memegang rambutnya untuk tetap menjaga tubuhnya agar tidak terlihat,
”Sayangku! Apa yang telah diperbuat oleh ibumu? Kejam nian dia telah memperlakukannmu seperti ini.” Ujar sang nenek sambil memakaikan kain sarung ke tubuh cucunya yang sudah sangat lemas itu lalu dipeluknya erat-erat kemudian sang nenek berteriak keras memanggil ibunya I Rawang. Sang ibu dari dalam mendengar suara teriakan itu lalu ia keluar hanya sampai pintu, sang nenek kemudian memarahinya,
”Hei kau, kenapa kau tega memperlakukan putri semata wayang mu seperti ini? Kau telah mempermalukannya, menyakitinya, biadab kau wanita jahannam.” Ujar sang nenek dengan suara sinis,
”Aku tidak peduli, dia telah mempermalukanku dia telah bersama seorang pria disini sewaktu aku pergi.” Ujar sang ibu tidak mau mengalah. ”meskipun ada tetap saja kau tak boleh melakukannya.
 Akhirnya sang nenek tidak ingin lagi berurusan dengan anaknya, ia segera membawa i Rawang pulang, karena keadaannya makin memburuk.
      Berhari-hari ia telah lewati bersama neneknya, ia sangat disayang dan dimanja oleh neneknya dibelikannya pakaian-pakaian yang indah, dan makanannya selalu tercukupi. Namun, tidak ada yang tahu bagaimana perasaan i Rawang yang sebenarnya, tampak dari luar ia terlihat biasa saja, tapi sebetulnya batinnya menderita teramat dalam, selama bersama neneknya ia dibebaskan untuk jalan-jalan di sore hari hanya di sekitar rumah dan tempat yang disukainya adalah pantai disana ia duduk-duduk di tengah kumpulan  batu-batu besar, i Rawang biasa menghabiskan waktu disore hari sendiri bersama pantai dan matahari senja. Di pantai itu ia meratapi nasibnya, mengingat perlakuan ibunya yang tidak manusiawi, di sana ia menangis mengingat kejadian itu, merasakan betapa sakitnya hati menerima hinaan yang sangat pedih menyayat hati itu hingga ia tuangkan dalam sebuah lagu ciptaannya, ”A’dappangana’ todzi’ Puang, mua’ namate tobanda’ bale’ alama’ dzuga masiri’ bega’ todzi’ napatengang kedzona kindo’u (Oh Tuhan Ampunilah hambamu, jika memang takdir menginginkanku mati, maka cepatlah cabut nyawaku, hatiku terlalu parah sakitnya oleh perlakuan ibuku)” katanya dengan penuh linangan air mata kesedihan.
        Tidak berapa lama kemudian i Rawang kembali jatuh sakit, ia terpaksa harus terbaring di tempat tidur tanpa bisa banyak bergerak, namun dengan penuh kasih sayang dan kelembutan sang nenek tetap setia mendampingi dan merawat  i Rawang, diberinya makan dan minum serta pakaian bahkan kehangatan yang tiada henti-hentinya sang nenek berikan terhadap sang cucu tercinta. Sang nenek juga tidak lupa selalu memohon kepada Tuhan agar memberikan keselamatan dan kesehatan untuk sang cucu tercinta, hingga ia bernazar kepada Tuhan,”Jika nanti cucuku kembali sehat, aku akan mengurbankan seekor kambing untuknya.”  Setelah beberapa hari kemudian i Rawang kembali sehat, do’anya terkabul, sang nenek gembira sekali sesuai dengan janjinya ia telah memenuhinya dengan mengurbankan satu ekor kambing untuk cucunya.
       Keadaan fisik i Rawang memang terlihat sehat, namun keadaan batinnya makin memburuk, ia kembali dengan kebiasaannya semula yakni setiap sore datang ke pantai duduk-duduk sambil meratapi nasib, mengingat- ingat kisah kelamnya hingga mencucurkan air mata kepedihan yang teramat dalam. Wajah yang dulu ceria nan cantik jelita, kini telah redup dan sinarnya menghilang diganti dengan wajah kelam yang hanya diisi oleh kesedihan teramat dalam. Setiap hari ia mengulangi kebiasaannya tersebut, namun tidak begitu lama ia kembali jatuh sakit, dan  pada saat itu pulalah ajal menjemput sang gadis manis nan lugu itu. Ia meninggal dengan membawa luka mendalam, dan luka itu pula yang membuatnya putus asa tenggelam dalam rasa kepedihan, rasa sakit yang tiada tara atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan hukuman yang memalukan, kini i Rawang telah tiada, sang nenek sangat terpukul dengan kepergian i Rawang, namun apa daya semuanya telah menjadi kehendak Tuhan yang tak dapat ditolak.
        Disisi lain, rupanya Ayah dari I Rawang akan segera pulang ke tanah kelahirannya, ia telah membawa banyak barang dan terkhusus ia siapkan satu buah peti yang berisi pakaian, perhiasan berupa kalung, anting, dan gelang yang kesemuanya terbuat dari emas, juga peralatan-peralatan yang lain hanya untuk putri semata wayangnya yang sudah ia rindu selama kurang lebih enam belas tahun di rantauan, kini ia akan kembali untuk merajut dan bersua bersama keluarga kecil yang dicintainya, dirinduinya terutama untuk putrinya tercinta i Rawang kaca kamummu’. “Ayah sudah tak sabar lagi ingin melihat wajah dan rupamu putriku, sekarang kau pasti sudah remaja dan kau pasti berwajah cantik dan ayu.” Kata sang ayah dengan wajah berseri-seri sembari membereskan segala bawaannya yang akan diangkut ke kapal.
       Berhari-hari ia terombang ambing di atas lautan dan akhirnya ia datang kebibir pantai dan tibalah saatnya ia kembali menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya tanah mandar malaqbi yang telah dirinduinya selama bertahun-tahun di negeri orang, setelah itu dengan wajah sumringah ia mulai melangkahkan kaki menuju rumahnya untuk segera bertemu dengan i Rawang Kaca Kamummu’ dengan membawa sebuah peti perlengkapan untuknya serta keperluan lainnya, namun di tengah jalan ia secara tidak sengaja bertemu dengan salah seorang tetangganya lalu kemudian mereka saling menyapa satu sama lain
,” Hai saudaraku, rupanya engkau telah datang dari rantau, bagaimana kabarmu?” sapa sang tetangga,
”Iya, aku sudah hampir setengah tua saudara, hari ini aku sehat bahkan sangat sehat hehehe” balas sang ayah. Lalu kemudian sang tetangga melihat peti yang dibawa oleh si ayah dan bertanya,
”Wah apa isi dari peti yang kau bawa itu saudaraku? Sepertinya cukup banyak bawaanmu, kelihatannya kau cukup sukses di negeri orang hehehe” ujar sang tetangga sambil memuji,
”Hahaha iya peti ini berisi segala perlengkapan yang diperlukan anakku i Rawang Kaca Kamummu” katanya dengan penuh kebanggaan. Namun seketika sang tetangga membalas dengan jawaban yang sangat mengejutkan,
”Mohon maaf saudaraku, kini putrimu sudah tiada, ia meninggal karena sakit hati terhadap ibunya yang telah menghukum dan menyiksa dia tanpa alasan yang dapat dibenarkan”.
Tiba-tiba sang ayah tersentak kaget luar biasa, tubuhnya tiba-tiba gemetar seperti tersambar petir, pikirannya kacau riuh, dan  tidak dapat berkata apapun, ia hampir saja jatuh pingsan, peti dan perlengkapan lain lepas dari tangan dan  ia sangat terpukul, ia merasa sia-sia melakukan semuanya, melihat semua itu sang tetangga mencoba menenangkannya dan memberinya semacam dorongan agar bisa menerima musibah dan kenyataan yang menimpanya saat ini.
       Setelah mendengar semuanya, ia kemudian bangkit dan membuang peti berisi perlengkapan anaknya ke laut dengan dendam yang mulai membara lalu ia kembali melangkahkan kaki menuju rumahnya tetapi ia tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa. Setelah sampai di rumah ia lalu memanggil isterinya yang sedang menyalakan api tungku di dapur sang isteri bertanya-tanya,
 ”Siapa gerangan yang memanggil-manggil namaku? Sepertinya aku mengenal suara itu” akhirnya ia keluar membukakan pintu dan kaget bukan kepalang melihat suaminya yang baru saja datang  dari negeri orang setelah bertahun-tahun lamanya ia ditinggalkan, dengan hangat sang isteri dipeluknya setelah sekian lama kemudian ia mempersilahkan masuk sang suami ke dalam rumah sambil membantu membawakan beberapa barang bawaannya, baru saja sang suami didalam rumah ia lantas menanyakan keberadaan i Rawang,
” innai ana’u i Rawang kaca Kamummu’?” ujarnya pura-pura tidak tahu, sang isteri yang baru saja membereskan barang-barang yang dibawa suaminya terkejut dan berbohong pada suaminya,
”Eeh dia.. dia.. dia sedang pergi kerumah  neneknya” ujarnya berbohong. Setelah itu sang suami hanya mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti walaupun sebenarnya dia sudah tau bahwa putri tunggalnya kini telah tiada oleh kebiadaban isterinya sendiri.
       Kedatangan kembali sang suami membuat keluarga kecil itu makin bahagia, namun dibalik semua itu sang suami sebenarnya telah menyimpan rasa benci yang begitu mendalam kepada sang isteri, olehnya itu setiap hari ia mengumpulkan daun kelapa kering dan disimpannya dibawah kolong rumah panggunggunya kemudian ia sandarkan ke pasak bagian tengah rumah, setiap hari ia terus mengumpulkan sedikit demi sedikit daun kelapa kering yang ditumpuk hingga banyak, isterinya tidak curiga dengan kebiasaan suaminya tersebut karena memang daun kelapa kering digunakan sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah saat menyalakan tungku api. Namun, semuanya hanya sebagai pelengkap sandiwara belaka.
      Setelah terkumpul banyak dan hampir memenuhi seluruh sudut kolong rumah, saat tengah malam tiba sang suami terbangun dan dengan pelan ia berjalan mengambil korek api di dapur, setelah itu ia memeriksa isterinya yang sedang tertidur pulas, kemudian diam diam ia mengunci seluruh pintu dan jendela lalu keluar dari rumah dan mengunci pintu depan, dengan segera ia turun dan masuk ke kolong rumah sambil menyalakan api pada daun kelapa kering yang sudah dikumpulkan tadi, dan akhirnya api mulai berkoar dengan gagahnya, sang isteri didalam rumah mulai merasakan sesak nafas dan kepanasan ia terbangun dan mencoba kabur tetapi tidak bisa sementara api terus menjilati selangkah demi selangkah rumahnya ia berteriak meminta pertolongan tetapi semuanya sia-sia dan akhirnya rumah mereka hangus terbakar bersama abu sang isteri yang tega memperlakukan anaknya secara biadab. “hahaha rasakan kekesalanku, ini adalah balasan bagimu yang telah membunuh putriku.”
      Setelah siang mendera, sang ayah menemui sang nenek yang telah berjasa menolong dan merawat putrinya, setelah bertemu sang nenek bercerita panjang lebar mengenai kisah kelam putrinya, sang ayah benar-benar hampir gila mendengar semuanya ia tidak menyangka isterinya tega berbuat demikian, dan akhirnya sang ayah diantar menuju pemakaman i Rawang anak kesayangannya.
     Disana ia mohon untuk ditinggal sendiri, sang nenek kemudian pergi meninggalkan ayah I Rawang, belum sempat ia memegang batu nisan sang anak, ia sudah tersungkur lesu tak berdaya, kemudian ia menembangkan lagu untuk anaknya tercinta,
I Rawang Kaca Kamummu’ Pembu-pembue’o dzai’, nasita rupai tau, me’apa ami kayyammu (Oh anakku I Rawang Kaca Kamummu bangkitlah dari pembaringanmu, ayah ingin melihat wajahmu dan sudah seberapa besar tubuhmu)” tembangnya dengan lelehan air mata, dan tak disangka ada suara terdengar dari dalam kubur i Rawang,
A’dappangana’ todzi’ pua’u i’dai tau namala sita rupa, apa’ laemmi bayu’u laeng tomi rupa’u ( Maafkanlah anakmu ini ayahanda, kita tak dapat bertemu dan saling menyapa karena wajah dan pakaianku sudah berubah menjadi bentuk yang lain).” Itu adalah jawaban terakhir dari I Rawang kaca Kamummu’ yang baru saja didatangi oleh ayahnya. Kemudian karena sang ayah benar-benar sudah putus asa akhirnya ia pun menghantamkan kepalanya ke batu nisan i Rawang Kaca Kamummu’ hingga berdarah dan akhirnya meninggal.

TAMAT







  
Nah itu tadi kisah dari I Rawang Kaca Kamummu’ dongeng cerita Rakyat Mandar Sulawesi Barat, sebenarnya lebih asyik dengar dongengnya langsung pakai bahasa mandar hehehe J, hmm mungkin ceritanya agak kepanjangan, ada yang terlalu hiperbola dan ada banyak penggunaan kata-kata yang boros ataupun kata-kata yang kurang dapat dipahami. Penulisannya juga mungkin masih ada yang “blibetan”  hehehe Insyaa Allah kedepannya saya akan lebih giat untuk memperbaiki penulisannya. Terima Kasih sudah berkunjung.

Wassalam..... ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar