Dongeng
dan Cerita Rakyat Mandar Sulawesi Barat
Assalamu
alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.....
Hay
guys J, ini kisah dongeng yang
pertama aku publish, sebenarnya kisah ini aku dapat dari tanteku dan tanteku
dapat kisah ini dari nenek ku trus nenek ku dapat dari ibunya terus, terus dan
terus hehehe. Iya dulu pas SD bahkan sampai aku menginjak bangku MTs (bukan
SMP):D, kalau lagi liburan ya liburannya ke Kampung Baru (Majene) di rumah
Tante dan biasanya kalau ada waktu senggang pasti didongengin sama tante gak
peduli mau pagi ke’ malam sebelum tidur atau bahkan maghrib dan yang lebih ajib
lagi setelah di ceritain dongeng biasanya tante ataupun mama ngasih semacam
nasehat yang berguna bagi saya yap betul sekali meskipun dongeng tapi
didalamnya terdapat banyak pelajaran yang bisa kita ambil dan kita contoh
ataupun beberapa hal yang harus dijauhi dalam kehidupan sehari-hari, hus hus sanaa, hahahaha syahrini kalee’ yah, assyyiik Bijak sekali lagi
kata-kataku :D. Hehehe sebenarnya masih banyak kisah yang pernah tante ataupun
mama yang diceritain ke aku tapi yah lain kali aja yah di postingnya. Ya udah
daripada kelamaan mending langsung baca
ajah, Selamat Membaca. ^_^
I Rawang Kaca Kamummu’
Alkisah pada zaman dahulu kala, ada
sepasang suami isteri yang sudah bertahun-tahun menikah tetapi masih belum
dikaruniai seorang anak. Namun walaupun demikian mereka tak pernah berputus asa
dan tiada henti-hentinya memohon dan meminta kepada Tuhan entah itu dipagi hari
entah disiang hari bahkan tengah malam sekalipun mereka tetap berharap ada
sebuah keajaiban menghapirinya , segala cara dan upaya hampir semuanya telah
dilakukan, bahkan jika ada orang lain yang menyarankan sautu cara, mereka akan
langsung melakukannya. Dan suatu hari di depan teras rumah panggung mereka
terjadilah sebuah percakapa.
,” Segala cara telah kita lakukan, mengapa Tuhan belum
mengabulkan do’a kita? Aku sudah hampir putus asa.” Ujar sang suami, kemudian
sang istri dengan penuh kelembutan dan kesabaran mencoba menenangkan
suaminya,”Tenanglah kanda, mungkin belum saatnya tetapi yakinlah Tuhan pasti
mengabulkan do’a kita.” Sambil mengelus lembut pundak sang suami yang kemudian
dilanjutkan dengan membahas cerita yang lain.
Pada suatu hari, tidak sengaja sang
isteri mual-mual tanpa ada kejelasan apa penyebabnya. Semula ia duga itu
hanyalah gejala masuk angin saja, namun kejadian ini berlangsung seminggu
lamanya, tidak hanya itu sang isteri mulai bertindak aneh, ia selalu meminta
makanan, buah ataupun minuman yang cukup sulit untuk mendapatkannya bahkan ia
akan marah ketika keinginannya tersebut tidak dituruti oleh suaminya. Kemudian
sang suami bertanya kepada tetangganya mengenai keadaan yang dialami isterinya,
setelah dijelaskan sang suami terkejut setengah mati ia benar-benar tidak
menyangka bahwa isterinya tengah mengandung janin buah cinta mereka, ia sangat
gembira mendengar jawaban tetangganya tersebut dan dengan serta merta ia
beritahukan kepada isterinya, bukan kepalang kebahagiaan mereka tak lupa mereka
bersyukur atas segala kasih sayang Tuhan yang telah diberikan, betapa tidak
cita-citanya kini telah terkabulkan, cita-cita yang sekian tahun
ditunggu-tunggu, segala usaha dan do’a yang dipanjatkan tidaklah sia-sia, kini
Tuhan telah mengabulkan permintaan mereka,
”Terima Kasih Tuhan”, ucap mereka hampir bersamaan sambil
menengadahkan tangan tanda syukur.
Hari-hari berlalu seperti angin sepoi
yang menyapa lembut di wajah yang kemudian berganti bulan dan akhirnya pada bulan ke sembilan
terdengarlah suara tangisan bayi yang pertama kali di dalam rumah itu, suara
itu adalah suara seorang bayi mungil perempuan yang berwajah ayu dan cantik
sekali, lebih dari itu di luar rumah bunga-bunga merekah indah, langit
menyiratkan warna biru yang kalem, bahkan burung – burung berkicau ria seakan turut
menyambut kehadiran sang malaikat kecil pembawa kehangatan dalam keluarga. Sang
ayah menggendong dengan hati-hati bayi mungil tersebut kemudian melihatnya
dengan seksama lalu menciumi dahinya penuh kasih sayang,
”Cantik sekali kamu nak, sekarang ayah menamaimu I Rawang Kaca
Kamummu.” Sekali lagi mereka berdua tak henti-hentinya mengucap rasa syukur
terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Yah sekarang bayi merah itu telah memiliki nama
yakni I Rawang Kaca Kamummu’.
Setelah keberadaan bayi kecil I Rawang,
itu berarti kebutuhan pun makin meningkat, dari yang semula masih dapat
dipenuhi sekarang mereka juga harus berbagi dengan sang bayi. Kemudian pada
suatu hari sang suami berencana untuk pergi sumombal
(merantau) ke pulau jawa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak semata
wayangnya I Rawang (dulu pulau jawa sangat terkenal untuk para perantau dari
Mandar). Beberapa hari kemudian rencananya itu diberitahukan kepada isterinya,
semula sang isteri tidak setuju, namun dengan alasan yang masuk akal akhirnya
sang isteri harus rela melepas suaminya, padahal dirinya sedang menyusui bayi
semata wayangnya tersebut. Lalu beberapa hari kemudian semua perlengkapan dan
pakaian sudah dipersiapkan sematang-matangnya untuk menjalani perjalanan yang
cukup panjang tersebut.
Desir pasir di bibir pantai, daun nyiur
yang bergerak melambai serta jejeran lopi
sandeq (perahu sandeq) menjadi saksi
bisu perpisahan keluarga kecil yang baru dikaruniai satu anak itu. Dan hari itu
adalah hari dimana mereka akan benar-benar berpisah,
”Kandi’ eloranga’ todzi’
nalumamba sumombal, diang a dzalle’u ma’itai pare-parewana i Cicci’ (Dinda,
izinkan kanda untuk pergi merantau ke Pulau Jawa, mencari perlengkapan untuk
anak kita I Rawang Kaca Kamummu’). Ujar sang suami, dengan mata berkaca-kaca
sambil memegangi pundak sang isteri. Kemudian dibalas oleh sang isteri,
”Kaka’ dao pasae lumamba
da pattoro’ labuang, bale’ pimbali’o mai dzuga di seseu (Kanda janganlah
terlalu lama dirantau orang hingga lupa tanah kelahiran sendiri, cepatlah
kembali kepadaku disini kita bersua)” Ujar
sang isteri dengan linangan air mata sambil melihati wajah mungil I Rawang yang
sedang dipeluknya. Sebenarnya berat rasanya ia pergi meninggalkan isteri dan
bayi kecil buah hatinya, namun apa daya ia tetap harus pergi untuk memenuhi kebutuhan
anaknya kelak. Beberapa menit kemudian kapal yang akan mengangkut ia untuk
pergi telah datang berlabuh dan terdengar suara teriakan dari dalam kapal
memanggil-manggil namanya.
Ia mengusap air matanya lalu memeluk dan mengecup kening
isterinya dengan penuh kasih sayang tidak lupa ia mencium pipi merah si kecil i
Rawang yang sedari tadi tetap tenang dan sesekali menggeliat, namun semakin ia
memandangi anaknya air matanya makin meleleh. Dengan demikian sang suami
melangkah selangkah demi selangkah meninggalkan isteri dan anak serta tanah
mandar kelahirannya. Tak kuasa melepas sang suami, sang isteri menangis
tersedu-sedu hingga menyebabkan si kecil i Rawang juga menangis cukup keras
sebagai pengantar kepergian sang ayah.
Pelan namun pasti kapal mulai meninggalkan
bibir pantai menuju lautan ombak, kapal terlihat semakin kecil dan dari
kejauhan sang suami masih sempat melambaikan tangan pada isterinya, begitupun
sang isteri ia benar-benar menunggui kapal itu hingga benar-benar hilang di
pelupuk mata. Setelah kapal melaju jauh si kecil i Rawang sudah kembali tenang
seakan-akan dengan ikhlas ia merelakan ayahnya pergi sumombal.
Hari demi hari berlalu kemudian berganti
bulan lalu bulan berganti tahun, bertahun-tahun sudah lamanya sang ayah meninggalkan
i Rawang Kaca Kamummu’. Kini si bayi
kecil i Rawang yang dulu masih merah saat ditinggal ayahnya telah menjadi gadis remaja yang manis ia
bagaikan bunga-bunga yang sedang merekah harum semerbak dan mewangi, wajahnya
indah dengan dua bola mata bulat khas melayu, kulitnya putih langsat, rambut
yang terurai panjang ikal dan tebal hingga ujung mata kaki, disertai dengan
lesung pipi yang manis saat ia tersenyum sebagai pelengkap keayuannya.
Perangainya lemah lembut, tutur kata yang baik, dan patuh terhadap ibunya
menambah indahnya sosok i Rawang Kaca Kamummu’.
I Rawang Kaca Kamummu’ adalah seorang
gadis yang sangat rajin, ia rajin membersihkan rumah, memasak dan pandai manette’ (menenun), lalu suatu ketika
seorang pemuda tampan asal Bugis tak sengaja lewat di depan rumahnya, saat itu
i Rawang sedang menenun sarung di halaman teras rumahnya (dulu rumah panggung).
Pemuda itu seketika terkesima melihat kecantikan dan kelihaiannya dalam manette’ , dalam hatinya berkata, ”Duhai
siapakah gerangan gadis cantik itu, baru sekali ini aku melihatnya,” katanya
sembil tersenyum. Namun, ia segera
berlalu dan berencana untuk kesana dan berbicara baik-baik kepada orangtuanya.
Beberapa hari kemudian pemuda itu kembali
datang menyambangi rumah i Rawang dan menjadi tamu di rumahnya, pelan namun
pasti sang pemuda menaiki tangga rumah dengan hati berdegup kencang kemudian
mengetuk pintu beberapa kali dan akhirnya dibuka oleh ibunda i Rawang, sang ibu terkejut mengetahui ada
seorang pemuda yang mendatangi rumahnya, setelah itu ibunda i Rawang
mempersilahkannya masuk dan duduk berhadapan, saat itu i Rawang sedang memasak
di dapur jadi ia hanya mendengar percakapan mereka dari balik dinding kayu.
Setelah berbasa-basi sang pemuda mulai menyatakaan tujuannya yang sebenarnya,
”Tabe’ begini,
kedatangan saya kemari untuk meminang putri anda menjadi pendamping hidup
saya,” katanya dengan sedikit gemetar. Ibunda I Rawang mengerutkan kening lalu
melihat ke arah pintu sambil mengingat kepergian suaminya pada saat I Rawang
masih kecil, keadaan hening seketika kemudian ibunda I Rawang kembali menghadap
ke depan dan berkata,
”Maafkan ibu anakku, aku tak bisa memutuskan bahwa kau bisa
menikahi putriku karena suamiku belum jua kembali, bagaimana kalau ia kembali
lantas putriku sudah kau bawa pergi, aku tak bisa membayangkan bagaimana
perasaannya nanti lagipula putriku masih terlalu muda untuk kau nikahi.” Ujar
sang ibu menjelaskan.
Setelah mendengar perkataan ibunya, untuk mengurangi rasa penasarannya i Rawang yang
sedari tadi untuk menedengar menengok sedikit kedalam melalui jendela kecil
dapurnya, ia melihat pemuda itu dengan jelas. Di sisi lain betapa hancur hati
pemuda itu ditolak mentah-mentah oleh ibu dari gadis yang dicintainya, dan
dengan berat hati ia berpamitan lalu pulang dengan tangan hampa (kosong) ia
benar-benar kecewa karena gagal memperistri i Rawang Kaca Kamummu’, walau begitu
ia punya segala cara untuk membalaskan dendamnya.
Suatu hari sang Ibu akan pergi ke pasar
untuk membeli keperluan sehari-hari lalu ia menyuruh i Rawang untuk menenun
sebuah sarung,
”Oo Rawang tette’i dzolo’
dze’ lipa’e, apa’ nanaonga’ dolo’ di pasar (Hai Rawang tenunlah sarung ini,
ibu mau ke pasar dulu)”, dengan patuhnya i Rawang mengiyakan dan segeralah ia melaksanakan
tugasnya, ia kaitkan seutas benang demi benang kemudian ia rangkai dan sesekali
ia berhenti untuk menghela keringat yang mulai bercucuran. Kemudian i Rawang
berhenti sejenak karena hari memang sudah menjelang siang sedangkan ibunya
belum juga pulang, sementar perut pun sudah mulai lapar, akhirnya ia bangkit
lalu menuju ke dapur untuk memasak sembari menunggu kedatangan ibu dari pasar.
Beberapa saat kemudian datanglah seekor
burung kecil yang hinggap di tandayan-nya
(alat untuk menenun) lalu burung itu melangkah ke kain tenun yang masih
setengah jadi itu dan merobek-robek helai demi helainya. Ternyata burung itu
adalah jelmaan dari pria bugis yang melamar i Rawang tempo hari, ia adalah
seorang pemuda sakti yang memiliki banyak ilmu, ia sengaja melakukan penyamaran
tersebut untuk membalas kekecewaannya terhadap ibunda i Rawang yang tidak
menyetujuinya untuk memperisteri puterinya.
Di
dapur I Rawang sudah selesai memasak dan makan, setelah kenyang ia kemudian
mencuci tangan dan langsung menuju teras untuk melanjutkan kembali tugasnya.
Setelah sampai ia kaget bukan kepalang melihat seekor burung sedang merusak
kain tenunannya kemudian ia langsung mengusir burung itu, saat itu ia
benar-benar kacau,
”Aduh bagaimana ini, kain saqbe
(sutera) ini sudah berantakan dan tidak bisa diperbaiki lagi, tidak, tidak, ibu
pasti akan memarahiku dan menyangka bahwa aku yang telah merusak kain sa’be-nya”. I Rawang yang tengah kacau
segera duduk dan berusaha memperbaiki kain tenunannya walaupun dengan tangan
yang gemetar, ia benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi ibunya.
Tak lama kemudian sang ibu datang
tergopoh-gopoh membawa barang belanjaan yang dibeli dipasar,
”Oo Rawang, cepat ambil barang-barang
ini,” belum sempat i Rawang menengok sang Ibu langsung terhentak dan seketika
barang yang dibawanya terlepas dari tangannya lalu segera menghampiri i Rawang
yang sedang berusaha sekuat tenaga memperbaiki kain tenunannya. Sang ibu marah
besar,
”Apa yang telah kau lakukan Rawang? Kenapa tandayan mu berantakan?” ujar sang ibu dengan nada sinis,
”Maafkan aku ibu, tadi ada seekor burung yang merobek-robek kain
tenunanku,” ujar i Rawang yang sedari tadi ketakutan,
sang ibu tidak percaya,”Ibu tidak percaya, itu hanya alasanmu
kan? Kau telah berbuat dosa dengan pemuda itu di rumah ini iya kan?” ujar sang
ibu yang memanas dengan suara tinggi,
I Rawang sangat ketakutan
dan mencoba membela diri,” Tidak ibu, aku tidak bersama siapa-siapa sedari
tadi, aku sendiri, aku bersumpah demi Tuhan bahwa burung lah yang telah merusak
tandayan ku, Ibu” ujar i Rawang yang sudah menangis menjerit,
“Bohong! Berani kau
membohongi ibumu, kau telah mempermalukan ibu, kau telah melanggar siriq” kata sang ibu yang makin marah
tak perduli suara isakan tangis i Rawang yang sangat ketakutan, selang beberapa
detik kemudian sang ibu segera saja menarik baju i Rawang dan meyeretnya menuju
halaman rumah lalu dilucutinya seluruh pakaian i Rawang dengan paksa sambil
memarahi dan memukulinya kemudian meninggalkannya begitu saja, i Rawang
menangis menjerit-jerit tetapi tak berdaya oleh perlakuan ibunya. Beruntunglah
i Rawang memiliki rambut hitam legam yang ikal, tebal dan panjangnya sampai
mata kaki yang kemudian ia pakai untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Hari
sudah menjelang sore, tiba-tiba saja ada sebuah bendi (delman) yang sedang lewat di depan rumah dan tukang bendi itu adalah tetangga dari nenek i
Rawang yang sedang dalam perjalanan pulang. I Rawang memanggil tukang bendi
itu,
”Permisi pak, tolong beritahukan kepada nenek saya bahwa keadaan
saya seperti ini, saya ingin ke rumahnya sekarang” ujar i Rawang dengan suara
parau sambil menceritakan segala kejadian yang menimpanya. Akhirnya tukang
delman itu mengerti dan segera berlalu kemudian memberitahukan keadaan i Rawang
kepada neneknya.
Setelah sampai di rumah nenek i Rawang,
tukang delman tadi memberitahukan tentang keadaan cucunya, mendengar semua itu
sang nenek marah besar kepada ibunda i Rawang. Segera ia membawa sebuah sarung
kemudian langsung pergi mengendarai delman tadi menuju rumah i Rawang yang kini
sedang dalam keadaan kacau.
Sesampainya di tempat ia langsung terharu
dan segera menghampiri i Rawang yang sudah pucat, tertunduk layu sambil terus
memegang rambutnya untuk tetap menjaga tubuhnya agar tidak terlihat,
”Sayangku! Apa yang telah diperbuat oleh ibumu? Kejam nian dia
telah memperlakukannmu seperti ini.” Ujar sang nenek sambil memakaikan kain
sarung ke tubuh cucunya yang sudah sangat lemas itu lalu dipeluknya erat-erat
kemudian sang nenek berteriak keras memanggil ibunya I Rawang. Sang ibu dari
dalam mendengar suara teriakan itu lalu ia keluar hanya sampai pintu, sang
nenek kemudian memarahinya,
”Hei kau, kenapa kau tega memperlakukan putri semata wayang mu
seperti ini? Kau telah mempermalukannya, menyakitinya, biadab kau wanita
jahannam.” Ujar sang nenek dengan suara sinis,
”Aku tidak peduli, dia telah mempermalukanku dia telah bersama
seorang pria disini sewaktu aku pergi.” Ujar sang ibu tidak mau mengalah.
”meskipun ada tetap saja kau tak boleh melakukannya.
Akhirnya sang nenek tidak
ingin lagi berurusan dengan anaknya, ia segera membawa i Rawang pulang, karena
keadaannya makin memburuk.
Berhari-hari ia telah lewati bersama
neneknya, ia sangat disayang dan dimanja oleh neneknya dibelikannya
pakaian-pakaian yang indah, dan makanannya selalu tercukupi. Namun, tidak ada
yang tahu bagaimana perasaan i Rawang yang sebenarnya, tampak dari luar ia
terlihat biasa saja, tapi sebetulnya batinnya menderita teramat dalam, selama
bersama neneknya ia dibebaskan untuk jalan-jalan di sore hari hanya di sekitar
rumah dan tempat yang disukainya adalah pantai disana ia duduk-duduk di tengah
kumpulan batu-batu besar, i Rawang biasa
menghabiskan waktu disore hari sendiri bersama pantai dan matahari senja. Di
pantai itu ia meratapi nasibnya, mengingat perlakuan ibunya yang tidak manusiawi,
di sana ia menangis mengingat kejadian itu, merasakan betapa sakitnya hati
menerima hinaan yang sangat pedih menyayat hati itu hingga ia tuangkan dalam
sebuah lagu ciptaannya, ”A’dappangana’
todzi’ Puang, mua’ namate tobanda’ bale’ alama’ dzuga masiri’ bega’ todzi’
napatengang kedzona kindo’u (Oh Tuhan Ampunilah hambamu, jika memang takdir
menginginkanku mati, maka cepatlah cabut nyawaku, hatiku terlalu parah sakitnya
oleh perlakuan ibuku)” katanya dengan penuh linangan air mata kesedihan.
Tidak berapa lama kemudian i Rawang
kembali jatuh sakit, ia terpaksa harus terbaring di tempat tidur tanpa bisa
banyak bergerak, namun dengan penuh kasih sayang dan kelembutan sang nenek
tetap setia mendampingi dan merawat i
Rawang, diberinya makan dan minum serta pakaian bahkan kehangatan yang tiada
henti-hentinya sang nenek berikan terhadap sang cucu tercinta. Sang nenek juga
tidak lupa selalu memohon kepada Tuhan agar memberikan keselamatan dan
kesehatan untuk sang cucu tercinta, hingga ia bernazar kepada Tuhan,”Jika nanti
cucuku kembali sehat, aku akan mengurbankan seekor kambing untuknya.” Setelah beberapa hari kemudian i Rawang
kembali sehat, do’anya terkabul, sang nenek gembira sekali sesuai dengan
janjinya ia telah memenuhinya dengan mengurbankan satu ekor kambing untuk cucunya.
Keadaan fisik i Rawang memang terlihat
sehat, namun keadaan batinnya makin memburuk, ia kembali dengan kebiasaannya
semula yakni setiap sore datang ke pantai duduk-duduk sambil meratapi nasib,
mengingat- ingat kisah kelamnya hingga mencucurkan air mata kepedihan yang
teramat dalam. Wajah yang dulu ceria nan cantik jelita, kini telah redup dan
sinarnya menghilang diganti dengan wajah kelam yang hanya diisi oleh kesedihan
teramat dalam. Setiap hari ia mengulangi kebiasaannya tersebut, namun tidak
begitu lama ia kembali jatuh sakit, dan pada saat itu pulalah ajal menjemput sang
gadis manis nan lugu itu. Ia meninggal dengan membawa luka mendalam, dan luka
itu pula yang membuatnya putus asa tenggelam dalam rasa kepedihan, rasa sakit
yang tiada tara atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan hukuman yang
memalukan, kini i Rawang telah tiada, sang nenek sangat terpukul dengan
kepergian i Rawang, namun apa daya semuanya telah menjadi kehendak Tuhan yang
tak dapat ditolak.
Disisi lain, rupanya Ayah dari I Rawang
akan segera pulang ke tanah kelahirannya, ia telah membawa banyak barang dan
terkhusus ia siapkan satu buah peti yang berisi pakaian, perhiasan berupa
kalung, anting, dan gelang yang kesemuanya terbuat dari emas, juga
peralatan-peralatan yang lain hanya untuk putri semata wayangnya yang sudah ia
rindu selama kurang lebih enam belas tahun di rantauan, kini ia akan kembali
untuk merajut dan bersua bersama keluarga kecil yang dicintainya, dirinduinya
terutama untuk putrinya tercinta i Rawang kaca kamummu’. “Ayah sudah tak sabar
lagi ingin melihat wajah dan rupamu putriku, sekarang kau pasti sudah remaja
dan kau pasti berwajah cantik dan ayu.” Kata sang ayah dengan wajah
berseri-seri sembari membereskan segala bawaannya yang akan diangkut ke kapal.
Berhari-hari ia terombang ambing di atas
lautan dan akhirnya ia datang kebibir pantai dan tibalah saatnya ia kembali
menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya tanah mandar malaqbi yang telah dirinduinya selama bertahun-tahun di negeri
orang, setelah itu dengan wajah sumringah ia mulai melangkahkan kaki menuju
rumahnya untuk segera bertemu dengan i Rawang Kaca Kamummu’ dengan membawa
sebuah peti perlengkapan untuknya serta keperluan lainnya, namun di tengah
jalan ia secara tidak sengaja bertemu dengan salah seorang tetangganya lalu
kemudian mereka saling menyapa satu sama lain
,” Hai saudaraku, rupanya engkau telah datang dari rantau,
bagaimana kabarmu?” sapa sang tetangga,
”Iya, aku sudah hampir setengah tua saudara, hari ini aku sehat
bahkan sangat sehat hehehe” balas sang ayah. Lalu kemudian sang tetangga
melihat peti yang dibawa oleh si ayah dan bertanya,
”Wah apa isi dari peti yang kau bawa itu saudaraku? Sepertinya
cukup banyak bawaanmu, kelihatannya kau cukup sukses di negeri orang hehehe”
ujar sang tetangga sambil memuji,
”Hahaha iya peti ini berisi segala perlengkapan yang diperlukan
anakku i Rawang Kaca Kamummu” katanya dengan penuh kebanggaan. Namun seketika
sang tetangga membalas dengan jawaban yang sangat mengejutkan,
”Mohon maaf saudaraku, kini putrimu sudah tiada, ia meninggal
karena sakit hati terhadap ibunya yang telah menghukum dan menyiksa dia tanpa
alasan yang dapat dibenarkan”.
Tiba-tiba sang ayah tersentak kaget luar biasa, tubuhnya
tiba-tiba gemetar seperti tersambar petir, pikirannya kacau riuh, dan tidak dapat berkata apapun, ia hampir saja
jatuh pingsan, peti dan perlengkapan lain lepas dari tangan dan ia sangat terpukul, ia merasa sia-sia
melakukan semuanya, melihat semua itu sang tetangga mencoba menenangkannya dan
memberinya semacam dorongan agar bisa menerima musibah dan kenyataan yang
menimpanya saat ini.
Setelah mendengar semuanya, ia kemudian
bangkit dan membuang peti berisi perlengkapan anaknya ke laut dengan dendam
yang mulai membara lalu ia kembali melangkahkan kaki menuju rumahnya tetapi ia
tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa. Setelah sampai di rumah ia lalu
memanggil isterinya yang sedang menyalakan api tungku di dapur sang isteri
bertanya-tanya,
”Siapa gerangan yang
memanggil-manggil namaku? Sepertinya aku mengenal suara itu” akhirnya ia keluar
membukakan pintu dan kaget bukan kepalang melihat suaminya yang baru saja
datang dari negeri orang setelah
bertahun-tahun lamanya ia ditinggalkan, dengan hangat sang isteri dipeluknya
setelah sekian lama kemudian ia mempersilahkan masuk sang suami ke dalam rumah
sambil membantu membawakan beberapa barang bawaannya, baru saja sang suami
didalam rumah ia lantas menanyakan keberadaan i Rawang,
” innai ana’u i Rawang kaca Kamummu’?” ujarnya pura-pura tidak
tahu, sang isteri yang baru saja membereskan barang-barang yang dibawa suaminya
terkejut dan berbohong pada suaminya,
”Eeh dia.. dia.. dia sedang pergi kerumah neneknya” ujarnya berbohong. Setelah itu sang
suami hanya mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti walaupun sebenarnya
dia sudah tau bahwa putri tunggalnya kini telah tiada oleh kebiadaban isterinya
sendiri.
Kedatangan kembali sang suami membuat
keluarga kecil itu makin bahagia, namun dibalik semua itu sang suami sebenarnya
telah menyimpan rasa benci yang begitu mendalam kepada sang isteri, olehnya itu
setiap hari ia mengumpulkan daun kelapa kering dan disimpannya dibawah kolong
rumah panggunggunya kemudian ia sandarkan ke pasak bagian tengah rumah, setiap
hari ia terus mengumpulkan sedikit demi sedikit daun kelapa kering yang
ditumpuk hingga banyak, isterinya tidak curiga dengan kebiasaan suaminya
tersebut karena memang daun kelapa kering digunakan sebagai bahan bakar
pengganti minyak tanah saat menyalakan tungku api. Namun, semuanya hanya
sebagai pelengkap sandiwara belaka.
Setelah terkumpul banyak dan hampir
memenuhi seluruh sudut kolong rumah, saat tengah malam tiba sang suami
terbangun dan dengan pelan ia berjalan mengambil korek api di dapur, setelah
itu ia memeriksa isterinya yang sedang tertidur pulas, kemudian diam diam ia
mengunci seluruh pintu dan jendela lalu keluar dari rumah dan mengunci pintu
depan, dengan segera ia turun dan masuk ke kolong rumah sambil menyalakan api
pada daun kelapa kering yang sudah dikumpulkan tadi, dan akhirnya api mulai
berkoar dengan gagahnya, sang isteri didalam rumah mulai merasakan sesak nafas
dan kepanasan ia terbangun dan mencoba kabur tetapi tidak bisa sementara api
terus menjilati selangkah demi selangkah rumahnya ia berteriak meminta
pertolongan tetapi semuanya sia-sia dan akhirnya rumah mereka hangus terbakar
bersama abu sang isteri yang tega memperlakukan anaknya secara biadab. “hahaha
rasakan kekesalanku, ini adalah balasan bagimu yang telah membunuh putriku.”
Setelah siang mendera, sang ayah menemui
sang nenek yang telah berjasa menolong dan merawat putrinya, setelah bertemu
sang nenek bercerita panjang lebar mengenai kisah kelam putrinya, sang ayah
benar-benar hampir gila mendengar semuanya ia tidak menyangka isterinya tega
berbuat demikian, dan akhirnya sang ayah diantar menuju pemakaman i Rawang anak
kesayangannya.
Disana ia mohon untuk ditinggal sendiri,
sang nenek kemudian pergi meninggalkan ayah I Rawang, belum sempat ia memegang
batu nisan sang anak, ia sudah tersungkur lesu tak berdaya, kemudian ia
menembangkan lagu untuk anaknya tercinta,
” I Rawang Kaca Kamummu’
Pembu-pembue’o dzai’, nasita rupai tau, me’apa ami kayyammu (Oh anakku I
Rawang Kaca Kamummu bangkitlah dari pembaringanmu, ayah ingin melihat wajahmu
dan sudah seberapa besar tubuhmu)” tembangnya dengan lelehan air mata, dan tak
disangka ada suara terdengar dari dalam kubur i Rawang,
”A’dappangana’ todzi’
pua’u i’dai tau namala sita rupa, apa’ laemmi bayu’u laeng tomi rupa’u (
Maafkanlah anakmu ini ayahanda, kita tak dapat bertemu dan saling menyapa
karena wajah dan pakaianku sudah berubah menjadi bentuk yang lain).” Itu adalah
jawaban terakhir dari I Rawang kaca Kamummu’ yang baru saja didatangi oleh
ayahnya. Kemudian karena sang ayah benar-benar sudah putus asa akhirnya ia pun
menghantamkan kepalanya ke batu nisan i Rawang Kaca Kamummu’ hingga berdarah
dan akhirnya meninggal.
TAMAT
Nah itu tadi
kisah dari I Rawang Kaca Kamummu’ dongeng cerita Rakyat Mandar Sulawesi Barat, sebenarnya
lebih asyik dengar dongengnya langsung pakai bahasa mandar hehehe J, hmm mungkin
ceritanya agak kepanjangan, ada yang terlalu hiperbola dan ada banyak
penggunaan kata-kata yang boros ataupun kata-kata yang kurang dapat dipahami.
Penulisannya juga mungkin masih ada yang “blibetan”
hehehe Insyaa Allah kedepannya saya akan
lebih giat untuk memperbaiki penulisannya. Terima Kasih sudah berkunjung.
Wassalam.....
^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar